Kenapa Bullying Sekolah Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial Dulu
Kenapa Bullying Sekolah Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial Dulu
Bullying di lingkungan sekolah bukan fenomena baru yang lahir dari media sosial atau tekanan akademis modern. Jauh sebelum istilah ini populer, praktik intimidasi antarsiswa sudah tertanam dalam struktur sosial sekolah-sekolah era kolonial Belanda di Nusantara. Hierarki kelas, perbedaan ras, dan sistem pendidikan yang diskriminatif menciptakan tanah subur bagi perilaku ini untuk tumbuh.
Coba bayangkan bagaimana sekolah-sekolah HIS (Hollandsch-Inlandsche School) dan MULO pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 beroperasi. Siswa dibedakan berdasarkan strata sosial — anak priyayi, anak keturunan Eropa, hingga anak rakyat biasa duduk dalam ruang yang sama namun tidak dalam kedudukan yang setara. Ketimpangan ini tidak hanya tertuang dalam kurikulum, tapi juga hidup dalam interaksi sehari-hari antar murid.
Menariknya, banyak catatan sejarawan dan memoar sastrawan Indonesia awal — termasuk yang tersebar dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer — mengisyaratkan bagaimana senioritas dan dominasi sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sekolah kolonial. Pola ini bukan sekadar kenakalan anak-anak, melainkan cerminan langsung dari sistem sosial yang lebih besar.
Akar Sejarah Bullying Sekolah dalam Sistem Pendidikan Kolonial
Hierarki Ras sebagai Pemicu Intimidasi Sistemik
Sistem pendidikan kolonial Belanda dirancang dengan segregasi rasial yang ketat. Ada sekolah khusus untuk orang Eropa, ada yang untuk golongan Timur Asing seperti Tionghoa dan Arab, dan ada yang untuk pribumi. Ketika beberapa sekolah mulai mencampur siswa dari berbagai latar belakang — terutama pada awal abad ke-20 — benturan sosial tak terhindarkan.
Siswa dari keluarga priyayi atau yang memiliki kedekatan dengan pemerintah kolonial kerap merasa “lebih tinggi” dibanding rekan-rekannya. Perasaan superioritas ini mewujud dalam tindakan nyata: ejeken, pengucilan, hingga kekerasan fisik ringan yang dianggap wajar oleh pengajar Belanda maupun siswa sendiri. Tidak ada mekanisme perlindungan. Tidak ada konselor sekolah. Yang ada hanya hierarki yang terus direproduksi setiap hari.
Budaya Senioritas dan Tradisi Perpeloncoan
Jauh sebelum istilah “ospek” dikenal, sekolah-sekolah menengah di era kolonial sudah mengenal tradisi senioritas informal. Murid baru wajib “tunduk” pada murid lama, baik secara simbolik maupun praktis — membawakan tas, menyelesaikan tugas orang lain, atau sekadar menerima hinaan tanpa hak untuk membalas.
Tradisi ini kemudian terbawa ke sekolah-sekolah bumiputra yang didirikan oleh tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa. Menariknya, Taman Siswa justru berupaya melawan pola ini dengan pendekatan among yang memanusiakan murid — sebuah kontras langsung terhadap model kolonial yang menormalisasi dominasi.
Bagaimana Warisan Kolonial Membentuk Budaya Bullying Hingga Kini
Normalisasi Kekerasan dalam Institusi Pendidikan
Salah satu dampak paling bertahan lama dari era kolonial adalah normalisasi kekerasan hierarkis dalam institusi. Ketika Indonesia merdeka pada 1945, sistem sekolah baru mewarisi banyak elemen struktural dari pendidikan Belanda — termasuk budaya senioritas yang belum pernah benar-benar dikritisi secara sistematis.
Studi sejarah pendidikan Indonesia yang dilakukan oleh beberapa akademisi di dekade 2010-an menunjukkan bahwa tradisi perpeloncoan di sekolah menengah dan pendidikan tinggi memiliki akar yang dapat dilacak langsung ke praktik kolonial. Bukan karena masyarakat Indonesia secara inheren kejam, melainkan karena tidak pernah ada momen dekonstruksi yang serius terhadap warisan sosial tersebut.
Kelas Sosial dan Identitas sebagai Senjata
Di sekolah-sekolah kolonial, identitas seseorang — suku, agama, status ekonomi — bisa menjadi bahan olok-olok yang dilembagakan. Anak dari keluarga miskin diejek karena seragamnya lusuh. Anak dengan logat daerah tertentu menjadi bahan tertawaan. Pola ini sangat familiar karena masih terjadi di banyak sekolah Indonesia pada 2026, meski dengan kemasan yang berbeda.
Faktanya, riset psikologi sosial konsisten menunjukkan bahwa bullying berkembang paling subur dalam sistem yang melegitimasi hierarki — dan sistem kolonial adalah salah satu konstruksi hierarki paling ekstrem yang pernah ada di wilayah ini. Warisannya tidak menghilang hanya karena bendera berganti.
Kesimpulan
Bullying sekolah bukan sekadar masalah perilaku individual yang bisa diselesaikan dengan poster anti-kekerasan di koridor. Sejarah panjangnya — yang membentang dari ruang kelas HIS kolonial hingga lorong SMA masa kini — menunjukkan bahwa ini adalah produk dari sistem sosial yang terus diwariskan. Memahami akar sejarah bullying di sekolah adalah langkah pertama yang tidak bisa dilewati jika kita ingin menyentuh akar masalahnya.
Pada 2026, diskusi tentang bullying sudah jauh lebih terbuka dibanding satu dekade lalu. Tapi selama kita tidak mengakui bahwa struktur hierarki — yang diwariskan dari era kolonial — masih hidup dalam budaya sekolah kita, intervensi apapun hanya akan menyentuh permukaan. Sejarah bukan sekadar masa lalu; ia adalah peta untuk memahami mengapa hari ini terasa begitu familiar.
FAQ
Apakah bullying di sekolah Indonesia memang berasal dari zaman kolonial Belanda?
Secara historis, banyak bukti menunjukkan bahwa pola intimidasi dan hierarki antarsiswa sudah ada dalam sistem pendidikan kolonial Belanda. Segregasi rasial dan normalisasi senioritas menjadi fondasi yang kemudian diwarisi sistem pendidikan Indonesia pasca-kemerdekaan. Ini bukan satu-satunya faktor, tapi merupakan salah satu akar struktural yang paling signifikan.
Bagaimana sistem pendidikan kolonial menciptakan kondisi yang memicu bullying?
Sistem pendidikan kolonial membagi siswa berdasarkan ras dan status sosial, menciptakan ketimpangan yang sangat terlihat dalam kehidupan sehari-hari sekolah. Ketika siswa dari berbagai strata dipaksakan berinteraksi dalam satu ruang tanpa kerangka kesetaraan, dominasi dan intimidasi menjadi cara alami bagi kelompok “atas” untuk menegaskan posisinya.
Apa perbedaan pendekatan Taman Siswa dengan sekolah kolonial dalam menangani hierarki siswa?
Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara secara eksplisit menolak model kolonial dengan menerapkan sistem among — guru sebagai pengasuh, bukan pemegang otoritas mutlak. Pendekatan ini menempatkan murid sebagai subjek yang setara secara manusiawi, berbeda jauh dengan sekolah kolonial yang melegitimasi dominasi berdasarkan kelas sosial dan ras.



